Beranda / News / Meneladani Rasulullah ﷺ, Jalan Hidup Sehat, Tenang, dan Penuh Berkah

Meneladani Rasulullah ﷺ, Jalan Hidup Sehat, Tenang, dan Penuh Berkah

Bersama: Ustad

LENSADAKWAH.COM— Mencintai Rasulullah ﷺ bukan berarti menempatkan beliau di atas Allah. Justru kecintaan kepada Rasulullah ﷺ harus semakin mendekatkan seorang Muslim kepada Allah SWT. Sebab, cinta kepada Rasulullah adalah bagian dari cinta kepada Allah, sedangkan Rasulullah ﷺ diutus untuk membimbing manusia mengenal, menyembah, dan mencintai Allah.

Pesan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam Kajian Ba’da Magrib di Masjid Attaqwa Pogot Surabaya, Ahad, 30 Agustus 2026, yang disampaikan Ustadz H. Sholeh AZ., M.Si.

Mengawali kajiannya, Ustadz Sholeh membacakan QS. Al-Ahzab ayat 21 sebagai landasan dalam meneladani Rasulullah ﷺ.

Allah SWT menegaskan bahwa pada diri Rasulullah ﷺ terdapat uswatun hasanah, teladan yang baik bagi orang yang berharap kepada Allah dan kehidupan akhirat serta banyak mengingat Allah.

Ayat tersebut mengajarkan bahwa Rasulullah ﷺ harus ditempatkan sebagai teladan dalam kehidupan. Namun, kecintaan kepada beliau tidak boleh membuat seorang Muslim melupakan Allah sebagai tujuan utama kehidupan.

Mencintai Rasulullah ﷺ berarti mengikuti jalan yang beliau ajarkan; dan jalan itu selalu bermuara kepada Allah SWT.

Karena itu, semakin seseorang mencintai Rasulullah ﷺ, semestinya semakin kuat salatnya, semakin banyak dzikirnya, semakin baik akhlaknya, semakin dekat kepada Al-Qur’an, dan semakin besar kepeduliannya kepada sesama.

Cinta kepada Rasulullah Dibuktikan dengan Keteladanan

Menurut Ustadz Sholeh, mencintai Rasulullah ﷺ tidak cukup hanya dengan mengungkapkan kecintaan melalui ucapan. Cinta harus dibuktikan dengan mengikuti akhlak dan kehidupan beliau.

Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam seluruh aspek kehidupan. Beliau adalah hamba Allah yang sangat kuat ibadahnya, tetapi sekaligus sosok yang penuh kasih sayang kepada keluarga, peduli kepada masyarakat, sederhana dalam kehidupan, dan bijaksana dalam menghadapi persoalan.

Karena itu, mencintai Rasulullah ﷺ dapat dimulai dari kehidupan sehari-hari.

Menjaga kebersihan, makan dan minum tidak berlebihan, menjaga kesehatan, memperhatikan keluarga, menghormati tetangga, menyambung silaturahmi, berkata baik, memaafkan kesalahan orang lain, serta membiasakan diri dengan dzikir dan doa merupakan bagian dari upaya menghadirkan keteladanan Rasulullah ﷺ dalam kehidupan.

Hidup Sederhana dan Menjaga Kesehatan

Rasulullah ﷺ juga memberikan keteladanan dalam menjaga keseimbangan hidup. Beliau tidak mengajarkan umatnya untuk berlebihan dalam menikmati kehidupan dunia.

Prinsip tidak berlebihan dalam makan dan minum, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-A’raf ayat 31, menjadi salah satu pelajaran penting bagi umat Islam.

Mencontoh pola hidup Rasulullah ﷺ dengan menjaga kebersihan, mengatur pola makan, menjaga aktivitas tubuh, serta memberikan ruang bagi istirahat dan ibadah merupakan bentuk ikhtiar menjaga kesehatan.

Dengan demikian, sunnah Rasulullah ﷺ tidak hanya berbicara tentang ritual ibadah, tetapi juga mengajarkan bagaimana seorang Muslim menjaga dirinya agar mampu menjalankan amanah kehidupan dengan baik.

Rasulullah ﷺ Mengajarkan Ketenangan Jiwa

Kehidupan Rasulullah ﷺ juga memberikan pelajaran luar biasa tentang ketenangan.

Beliau menghadapi berbagai ujian, penolakan, kehilangan, tekanan, dan ancaman. Namun Rasulullah ﷺ tetap kokoh karena hatinya senantiasa bergantung kepada Allah SWT.

Inilah pelajaran penting bagi kehidupan manusia modern. Ketenangan bukan berarti hidup tanpa masalah. Ketenangan adalah kemampuan menghadapi masalah dengan tetap menjadikan Allah sebagai tempat bergantung.

Maka, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ seharusnya melahirkan kecintaan yang lebih besar kepada Allah. Ketika menghadapi persoalan, seorang Muslim belajar dari Rasulullah ﷺ untuk kembali kepada Allah melalui salat, doa, dzikir, kesabaran, dan tawakal.

Dari Cinta Menjadi Keteladanan

Rasulullah ﷺ adalah manusia pilihan Allah yang menjadi teladan bagi umat manusia. Karena itu, mencintai beliau bukan untuk menggeser posisi Allah dalam hati, tetapi untuk mengikuti petunjuk yang beliau bawa menuju Allah.

Jangan sampai kita mengaku mencintai Rasulullah ﷺ, tetapi semakin jauh dari Allah. Jangan sampai nama Rasulullah sering disebut, tetapi salat ditinggalkan, akhlak diabaikan, dan hubungan dengan sesama justru dipenuhi kebencian.

Cinta yang benar kepada Rasulullah ﷺ seharusnya membuat seseorang semakin tunduk kepada Allah, semakin lembut kepada sesama, dan semakin baik dalam menjalani kehidupan.

Pesan inilah yang menjadikan keteladanan Rasulullah ﷺ selalu relevan. Beliau tidak hanya dikenang, tetapi diikuti. Tidak hanya dicintai dengan lisan, tetapi dihadirkan dalam perilaku.

Dari Masjid Attaqwa Pogot, Kajian Ba’da Magrib tersebut menjadi pengingat bahwa Allah tetap menjadi cinta tertinggi dan tujuan utama kehidupan. Rasulullah ﷺ adalah teladan dan jalan yang mengajarkan bagaimana cinta kepada Allah itu diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Semakin mencintai Rasulullah ﷺ, semestinya semakin dekat kepada Allah. Semakin mengikuti sunnah beliau, semestinya semakin baik ibadah dan akhlaknya.

Itulah cinta yang melahirkan keteladanan: mencintai Rasulullah ﷺ untuk semakin mencintai Allah SWT.