Beranda / Umum / Menjadikan Al-Qur’an sebagai Kompas Informasi di Tengah Derasnya Arus Zaman

Menjadikan Al-Qur’an sebagai Kompas Informasi di Tengah Derasnya Arus Zaman

LENSADAKWAH.COM. Surabaya – Kajian Inspirasi Subuh yang rutin dilaksanakan setiap Rabu ba’da Subuh di Masjid At-Taqwa Pogot kembali dipenuhi jamaah dari berbagai penjuru Surabaya Utara, Rabu (22/4/2026). Kajian yang diasuh oleh Muchamad Arifin kali ini mengangkat tema “Menjadikan Al-Qur’an Sebagai Kompas Informasi.”

Dalam penyampaiannya, Ustaz Arifin menekankan bahwa derasnya arus informasi di era digital tidak boleh membuat umat Islam kehilangan arah. Justru di tengah banjir informasi, Al-Qur’an harus menjadi kompas utama untuk menilai mana yang benar dan mana yang menyesatkan.

“Informasi hari ini begitu cepat dan masif, tetapi tidak semuanya membawa kebenaran. Karena itu, Al-Qur’an harus menjadi rujukan utama dalam menyaring setiap informasi yang kita terima,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kebenaran Al-Qur’an bersifat mutlak dan tidak akan pernah berubah oleh perkembangan zaman. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah (QS. Al-Hijr: 9) yang artinya: “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur’an dan Kami pula yang menjaganya.”

Menurutnya, ayat ini memberikan keyakinan bahwa keaslian dan kebenaran Al-Qur’an akan selalu terjaga sepanjang masa. Artinya, ketika manusia merujuk kepada Al-Qur’an, maka ia sedang berpegang pada sumber informasi yang paling otoritatif dan tidak akan mengalami distorsi.

Lebih lanjut, ia mengajak jamaah untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang diyakini tanpa keraguan. Hal ini sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah: 2 yang artinya: “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.”

Ustaz Arifin menegaskan bahwa ayat ini bukan sekadar pernyataan, tetapi juga peneguhan bahwa Al-Qur’an adalah standar kebenaran. Siapa pun yang menjadikannya pedoman, maka hidupnya akan lebih terarah dan tidak mudah terombang-ambing oleh opini dan informasi yang tidak jelas sumbernya.

Dalam penutup kajian, ia mengingatkan pesan Rasulullah ﷺ bahwa ada dua pedoman utama yang jika dipegang teguh akan membawa keselamatan dunia dan akhirat, yaitu Kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunnah Nabi. Hadis ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak berdiri sendiri, tetapi harus dipahami dan diamalkan bersama tuntunan Nabi Muhammad ﷺ agar tidak terjadi kesalahan dalam memahami ajaran.

Kajian ditutup dengan ajakan reflektif agar jamaah semakin bijak dalam menyikapi informasi, serta senantiasa mengembalikan setiap berita, opini, dan pengetahuan kepada nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah. Dengan demikian, umat Islam tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga menjadi pribadi yang kokoh, kritis, dan tetap berada dalam bimbingan wahyu.