Bersama: Ustad Muchamad Arifin
LENSADAKWAH.COM – Lima kali dalam sehari manusia dipanggil untuk berhenti sejenak dari kesibukan dunia dan menghadap kepada Allah. Panggilan itu bukan sekadar penanda masuknya waktu shalat, tetapi sebuah “alarm kehidupan” agar hubungan manusia dengan Sang Pencipta tidak pernah terputus. Pesan itulah yang mengemuka dalam kajian ba’da shalat Subuh di Masjid Baitul Jamil, Perum Manyar Indah Surabaya, Ahad (6/9/2026), yang disampaikan Ustaz Muchamad Arifin dengan tema “Shalat Alarm Kehidupan.”

Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, manusia mudah larut dalam pekerjaan, urusan keluarga, aktivitas sosial, hingga derasnya arus informasi. Karena itu, menurut Ustaz Muchamad Arifin, Allah memberikan shalat lima waktu sebagai momentum untuk kembali mengingat siapa diri manusia dan kepada siapa seluruh kehidupan pada akhirnya akan kembali.
“Shalat adalah alarm bagi kita semua, supaya ingatan kita kepada Allah tidak sampai putus. Lima kali sehari kita dipanggil untuk kembali kepada-Nya, agar kita tidak hanya sibuk mengurus kehidupan dunia, tetapi juga ingat kepada Sang Pemilik kehidupan, alam semesta, dan surga yang menjadi tujuan akhir kita,” tuturnya.
Ia menjelaskan, shalat semestinya tidak dipahami hanya sebagai kewajiban yang selesai setelah salam. Shalat harus meninggalkan jejak dalam kehidupan. Setelah keluar dari masjid, nilai-nilai shalat semestinya ikut hadir dalam cara seseorang berbicara, bekerja, menggunakan harta, memperlakukan keluarga, bergaul dengan tetangga, hingga menggunakan media sosial.
Karena itu, seseorang yang menjaga shalat juga dituntut menjaga dirinya di luar waktu shalat. Ketika hendak berbohong, menyakiti orang lain, menyebarkan fitnah, mengambil hak yang bukan miliknya, atau melakukan perbuatan yang dilarang agama, kesadaran sebagai orang yang shalat seharusnya menjadi pengingat untuk berhenti.
Pesan tersebut sejalan dengan firman Allah dalam QS. Al-‘Ankabut ayat 45: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” Ayat ini, menurut Arifin, menunjukkan bahwa shalat memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada sekadar menggugurkan kewajiban. Shalat seharusnya menjadi kekuatan moral yang menjaga manusia dalam menjalani kehidupan.
Khusyuk, Menghadirkan Hati dalam Shalat
Lebih lanjut, Arifin mengajak jamaah meningkatkan kualitas shalat dengan menghadirkan kekhusyukan. Ia merujuk pada awal Surah Al-Mu’minun yang menggambarkan keberuntungan orang-orang beriman, salah satunya karena mereka khusyuk dalam shalat.
Khusyuk bukan sekadar memperlama bacaan atau memperindah gerakan, tetapi menghadirkan kesadaran bahwa seorang hamba sedang berkomunikasi dengan Allah. Dalam shalat, manusia belajar melepaskan sejenak berbagai beban kehidupan, menyerahkan diri kepada Allah, dan menemukan ketenangan.
“Ketika kita mengucapkan takbiratul ihram, sesungguhnya kita sedang belajar menyerahkan diri kepada Allah. Kita tinggalkan sejenak hiruk-pikuk dunia dan menghadirkan hati di hadapan-Nya,” ungkapnya.
Menurut Arifin, shalat yang dikerjakan secara sempurna—baik bacaan, gerakan maupun penghayatan hati—akan memberikan pengaruh positif terhadap kehidupan. Shalat bukan hanya menjadi sarana pembinaan rohani, tetapi juga menjadi ikhtiar membangun ketenangan jiwa dan menjaga kesehatan jasmani melalui gerakan yang dilakukan secara teratur.
Dari sini, shalat dapat dipahami sebagai proses membangun manusia secara utuh: menenangkan batin, menyehatkan jasmani, membentuk akhlak, sekaligus memperkuat hubungan dengan Allah.
Dari Masjid Membawa Pesan Shalat ke Kehidupan
Kajian tersebut kemudian mengajak jamaah melihat kembali makna shalat dalam kehidupan sehari-hari. Lima waktu shalat adalah waktu untuk “mengisi ulang” kesadaran spiritual, sedangkan waktu di luar shalat menjadi ruang untuk membuktikan bahwa kesadaran tersebut benar-benar hidup.
Subuh mengingatkan manusia untuk memulai hari bersama Allah. Zuhur menjadi pengingat di tengah kesibukan. Asar mengajak melakukan evaluasi sebelum hari berakhir. Magrib menjadi momentum kembali kepada keluarga dan lingkungan. Sementara Isya menjadi kesempatan menutup hari dengan introspeksi dan berserah diri kepada Allah.
Dengan demikian, shalat memang lima waktu, tetapi penjagaan diri harus sepanjang waktu.
Jamaah diajak untuk tidak berhenti pada pertanyaan, “Sudahkah saya shalat?”, tetapi melanjutkannya dengan pertanyaan yang lebih dalam: “Apa yang berubah dalam diri saya setelah shalat?”
Jika shalat membuat seseorang semakin jujur, semakin sabar, semakin mampu menahan amarah, semakin menjaga lisan, semakin menyayangi keluarga, semakin menghormati tetangga, dan semakin takut melakukan kemungkaran, maka shalat tersebut telah mulai menjalankan fungsinya sebagai alarm kehidupan.
Pada akhirnya, shalat bukan hanya tentang lima kali berdiri menghadap Allah, tetapi tentang bagaimana lima kali perjumpaan itu membentuk perilaku sepanjang hari.
Azan adalah alarmnya. Shalat adalah pengingatnya. Takwa adalah penjaganya. Dan akhlak adalah bukti bahwa alarm itu benar-benar bekerja.
Kajian pagi di Masjid Baitul Jamil tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah kesibukan dunia yang terus bergerak, manusia tetap membutuhkan jeda untuk kembali kepada Allah. Sebab ketika hubungan dengan Allah terjaga, kehidupan pun memiliki arah, hati memiliki ketenangan, dan perilaku memiliki batas yang menjaga dari perbuatan keji dan mungkar.
#ShalatAlarmKehidupan #Shalat #KajianSubuh #KajianIslam #DakwahIslam #MasjidBaitulJamil #ManyarIndah #Surabaya #UstadzMuchamadArifin #KajianIslamSurabaya #IslamBerkemajuan #DakwahMuhammadiyah #ShalatKhusyuk #AkhlakIslam #RenunganIslam #InspirasiIslam #LensaDakwah #DakwahIndonesia





