Surabaya, 24 Juni 2026 – Suasana hangat dan penuh kekhusyukan menyelimuti Masjid Attaqwa Pogot Surabaya pada pelaksanaan Kajian Inspiratif Subuh (KIS), Rabu (24/6/2026). Kajian rutin yang diasuh oleh Ustadz Muchamad Arifin setiap Rabu ba’da Subuh tersebut kali ini mengangkat tema “Teguh Dalam Iman, Istiqomah Dalam Dakwah”, sebagai bagian dari upaya mengambil hikmah dan inspirasi dari momentum Hari Asyura (10 Muharram).

Dalam pemaparannya, Ustadz Muchamad Arifin menjelaskan bahwa Hari Asyura menyimpan banyak peristiwa penting dalam sejarah para nabi. Di antaranya adalah keselamatan Nabi Musa AS dari kejaran Fir’aun, diterimanya taubat Nabi Adam AS, hingga berbagai peristiwa besar lainnya yang menunjukkan pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Namun karena keterbatasan waktu, kajian kali ini difokuskan pada pelajaran berharga dari kisah Nabi Musa AS dan Fir’aun.
Dengan gaya penyampaian yang ringan namun menyentuh, Ustadz Arifin mengajak jamaah merenungkan saat-saat menegangkan ketika Nabi Musa AS bersama pengikutnya terjebak di depan Laut Merah, sementara pasukan Fir’aun berada di belakang mereka. Secara logika manusia, tidak ada jalan keselamatan. Namun justru pada titik itulah pertolongan Allah datang. Laut yang luas terbelah atas izin-Nya dan menjadi jalan keselamatan bagi Nabi Musa serta kaumnya.
“Dari kisah ini kita belajar bahwa ketika semua pintu terasa tertutup, jangan pernah berputus asa. Ketika manusia melihat jalan buntu, Allah mampu membuka jalan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Pertolongan Allah bisa datang dari arah yang tidak disangka-sangka,” tutur Ustadz Arifin di hadapan jamaah.
Menurutnya, kehidupan saat ini juga sering menghadapkan manusia pada berbagai kesulitan, baik persoalan ekonomi, keluarga, pekerjaan maupun perjuangan dakwah. Namun kisah Nabi Musa mengajarkan bahwa setiap kesulitan selalu menyimpan jalan keluar bagi mereka yang tetap beriman, bersabar, dan bertawakal kepada Allah. Sebab, tidak ada masalah yang lebih besar daripada kekuasaan Allah.
Selain itu, Ustadz Arifin juga mengingatkan bahaya kesombongan melalui sosok Fir’aun. Dengan kekuasaan yang dimilikinya, Fir’aun merasa dirinya paling hebat dan menolak kebenaran yang dibawa Nabi Musa AS. Kesombongan itulah yang akhirnya menyeretnya kepada kehancuran dan kehinaan.
Beliau mengutip firman Allah Swt.:
“Aku akan memalingkan dari tanda-tanda (kekuasaan)-Ku orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar.”
(QS. Al-A’raf: 146)
Ayat tersebut menjadi peringatan bahwa kesombongan bukan hanya menutup hati dari kebenaran, tetapi juga menghalangi seseorang dari petunjuk Allah. Sebaliknya, kerendahan hati akan membuka pintu hidayah dan keberkahan dalam kehidupan.
Menjelang akhir kajian, Ustadz Arifin mengajak jamaah untuk menjadikan momentum Asyura sebagai sarana memperkuat keimanan dan memperteguh langkah dalam berdakwah. Sebab, dakwah bukanlah jalan yang selalu mudah. Akan ada tantangan, ujian, bahkan penolakan. Namun selama seseorang tetap istiqomah berada di jalan Allah, pertolongan-Nya akan selalu menyertai.
Kajian Inspiratif Subuh (KIS) yang berlangsung dengan penuh antusias tersebut ditutup dengan doa bersama. Para jamaah berharap nilai-nilai keteguhan iman, kesabaran, dan optimisme yang diwariskan melalui kisah Nabi Musa AS dapat menjadi bekal dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan, sekaligus menguatkan semangat untuk terus istiqomah dalam berdakwah dan berbuat kebaikan di tengah masyarakat.
“Jika laut saja bisa terbelah atas izin Allah, maka tidak ada kesulitan hidup yang mustahil mendapatkan jalan keluar. Tugas kita adalah tetap beriman, bersabar, dan terus melangkah di jalan kebaikan.” demikian pesan penutup yang menginspirasi dari Kajian Inspiratif Subuh pagi itu.





