Jombang, Lensadakwah.com – Rangkaian Rapat Kerja Majelis Tabligh PCM Kenjeran bersama 11 masjid Muhammadiyah di Muhammadiyah Trade Center (MTC) Wonosalam, Jombang, menghadirkan banyak pesan inspiratif bagi para pengurus takmir. Salah satunya disampaikan oleh Wakil Ketua PCM Kenjeran yang membidangi Majelis Tabligh dan urusan kemasjidan, Ustaz Bahrun, yang mengingatkan bahwa menjadi pengurus masjid merupakan amanah mulia yang membutuhkan keikhlasan luar biasa.

Dalam sambutannya, Ustaz Bahrun menegaskan bahwa masjid merupakan ujung tombak gerakan dakwah Muhammadiyah yang paling dekat dengan masyarakat. Berbeda dengan amal usaha lainnya, aktivitas masjid bersentuhan langsung dengan kebutuhan, harapan, dan dinamika kehidupan jamaah setiap hari.
“Masjid adalah wajah Muhammadiyah yang paling dekat dengan umat. Dari masjidlah dakwah hadir, pembinaan dilakukan, dan pelayanan kepada masyarakat diberikan. Karena itu, peran takmir sangat strategis dalam menjaga hidup dan berkembangnya masjid,” ungkapnya.
Namun demikian, menurut Ustaz Bahrun, mengelola masjid bukanlah pekerjaan yang mudah. Tidak ada gaji yang menanti para pengurus, tetapi yang sering datang justru kritik, keluhan, bahkan kesalahpahaman dari jamaah. Karena itu, amanah sebagai takmir menuntut kesabaran dan keikhlasan yang tinggi.
“Ngurus masjid itu tidak digaji. Tetapi kadang yang diterima justru keluhan, kritik, bahkan disalahkan. Karena itu, menjadi takmir harus memiliki hati yang lapang dan niat yang ikhlas karena Allah SWT. Kalau niatnya hanya mencari penghargaan manusia, tentu akan mudah kecewa,” tuturnya.
Dengan gaya yang akrab dan penuh makna, ia juga mengingatkan pentingnya memiliki sikap “gampangan” atau berlapang dada dalam menjalankan amanah. Seorang takmir, menurutnya, tidak boleh mudah tersinggung ketika menghadapi kekurangan yang ada di masjid. Bahkan jika diperlukan, pengurus harus siap berkorban lebih untuk menutupi kekurangan tersebut.
“Kalau dalam bahasa Jawa itu namanya nomboi. Ketika ada yang kurang, jangan malah mencari siapa yang salah. Kalau bisa diperbaiki, mari diperbaiki bersama. Kalau perlu menambah tenaga, pikiran, bahkan rezeki, lakukan demi kemakmuran masjid,” pesannya.
Lebih lanjut, Ustaz Bahrun menekankan bahwa menjadi pengurus takmir tidak cukup hanya tercantum dalam struktur organisasi. Pengurus harus hadir, berinteraksi, dan membersamai jamaah dalam berbagai kegiatan masjid. Menurutnya, mustahil seorang takmir dapat memahami kebutuhan jamaah jika dirinya sendiri jarang hadir di masjid.
“Jangan sampai menjadi pengurus takmir, tetapi tidak pernah terlihat di masjid. Takmir harus menjadi orang yang paling dekat dengan jamaah, paling siap melayani, dan paling peduli terhadap perkembangan masjid,” tegasnya.
Ia berharap seluruh peserta raker mampu menjadikan amanah kepengurusan sebagai ladang ibadah dan pengabdian kepada umat. Sebab, kemajuan sebuah masjid tidak hanya ditentukan oleh megahnya bangunan atau banyaknya program yang dimiliki, melainkan oleh ketulusan para pengurus dalam melayani jamaah.
Di akhir sambutannya, Ustaz Bahrun mengajak seluruh takmir untuk terus menjaga semangat pengabdian dan menjadikan masjid sebagai rumah bersama bagi umat. Dengan keikhlasan, kebersamaan, dan kesediaan untuk berkorban, ia optimistis masjid-masjid Muhammadiyah di Kenjeran akan semakin hidup, makmur, dan mampu menghadirkan manfaat yang luas bagi masyarakat.
Pesan-pesan yang disampaikan Ustaz Bahrun tersebut mendapat sambutan hangat dari para peserta. Bagi mereka, nasihat tersebut bukan sekadar motivasi, melainkan pengingat bahwa menjadi takmir masjid adalah amanah yang mulia, yang menuntut keteladanan, kesabaran, dan keikhlasan dalam setiap langkah pengabdian. Arifin






